Keuntungan Menjadi Penulis


Meskipun di sini saya menjelaskan tentang keuntungan tapi jangan menanyakan apa kerugiannya. Karena saya belum mampu menjawabnya.

Dari segi materi, menulis dapat mendatangkan royalti yang terus berjalan menjadi pasif income, hemat biaya transportasi, bagi ibu-ibu rumah tangga bisa bekerja tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu yang mengasuh putra-putrinya, bisa diwariskan ke pada anak cucu, buku termasuk kekayaan intelektual yang bisa diwariskan kepada keturunannya.

Pengahasilan dari menulis tidaklah sedikit, saya pernah mendengar ada seorang kyai yang bisa mendirikan pondok dan membiayai operasional hariannya dengan mengandalkan buku yang beliau tulis. Dan konon sampai sekarang buku itu masih diterbitkan sehingga tetap medapat royalti dari penerbit.

Keuntungan non-materi, pahala, menulis menjadi peluang meraup pahala dan menjadi investasi akhirat yang menjanjikan. Ini banyak dipraktikan oleh penulis dan ulama-ulama dari jazirah Arab. Mereka menjadikan tulisan sebagai khazanah keilmuawan sehingga tidak jarang buku mereka boleh diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa tanpa perlu membayar royalti. Bahkan tanpa harus meninta persetujuan mereka.

Menulis juga bisa menambah wawasan, memperlancar bahasa, nama dikenal orang, akan terlatih banyak membaca demi mengisi kotak ide.

Menulis bagi sebagian orang juga bisa menghilangkan stress. Bayangkan jika seseorang yang memiliki kapasitas intelektual segunung tapi dia orangnya pendiem. Padahal ingin meyampaikannya kepada orang lain tapi tidak berani dengan bahasa lisan. Jangan-jangan ilmunya malah jadi jerawat. Hee. Nah, lewat bahasa tulis ini dia bisa merealisasikan maksudnya tanpa harus keringetan di depan audience.

Menolong orang lain? Bisa juga. Saya sendiri pernah menulis buku yang berawal dari dorongan menolong orang lain. Ceritanya begini, dulu ibu saya pernah mengalami sakit tumor. Dalam kurun waktu tiga tahun saya menemani ibu mengupayakan kesembuhanya. Baik ke rumah sakit ataupun ke klinik-klinik alternatif. Di sinilah saya bisa seolah merasakan bagiamana orang yang ingin mencapai kesembuhan berusaha. Bagaimana melihat saudara-saudara kita yang sakit. Sebagian mereka sangat memprihatinkan, tidak ada biaya, tidak ada yang mendampingi. Sudah begitu masih diribetkan dengan prosedur pengobatan yang rumit plus pelayanan dari petugas yang kurang ramah. Sungguh menyedihkan bukan? Lalu saya berpikiran bagaimana saya bisa membantu mereka. Setidaknya memberi hiburan, syukur-syukur motivasi kepada mereka untuk tetap sabar dan tegar. Itulah awal dari lahirnya buku saya dengan judul ‘Agar Allah Selalu Bersama Kita’

4 comments:

  1. pengen juga jadi penulis gan..

    ReplyDelete
  2. Mas Muhammad, gampang kok untuk menjadi penulis, kuncinya jangan takut untuk mencoba.

    ReplyDelete

Jika ada saran, pertanyaan, atau kritik, silakan tuliskan komentar dengan bahasa yang jelas dan santun. Terima kasih.